Italia Akan Mengkaji Ulang Penutupan Stadion

Italia Akan Mengkaji Ulang Penutupan Stadion

Italia Akan Mengkaji Ulang Penutupan Stadion

Setelah menjalani paruh musim dengan sebuah peraturan ketat hal tersebut sepertinya mulai mendapatkan tentangan. Karena itu Federasi Sepakbola Italia (FIGC) dan pihak Lega Calcio berencana untuk urun rembuk membicarakan peraturan yang tidak menguntungkan sebagian besar tim-tim di Italia saat ini. Presiden Lega Serie A Maurizio Beretta, telah menerima sejumlah keluhan dari berbagai klub yang berpartisipasi di sepenjuru daerah dalam beberapa periode terakhir dan karena itu pihaknya akan mengambil sikap dan langkah yang lebih bijak, sebelum menjatuhkan sanksi. Karena itu Beretta menyerukan sebuah penilaian ulang yang banyak difitnah dan mengakibatkan penutupan stadion sejauh ini. Mengambil peranan penting oleh karena itu Lega Serie A melibatkan FIGC. Karena keputusan yang sangat ketat demi menghentikan sebuah aksi rasis yang sangat marak dan cukup mempengaruhi penilaian buruk dari UEFA membuat mereka melakukan penutupan di sektor Curvas bagian atas dan bawah di dalam stadion.

Proses pembicaraan dan sejumlah interpretasi dan aturan baru sempat mengundang pembicaraan yang sedikit memanas, sementara keputusan kubu Lega Serie A yang mencabut keputusan penutupan di Curva Nord saat derby Milan pada akhir pekan kemarin tidak luput karena tekanan keras yang dilakukan oleh kedua klub tersebut. Sebelumnya mereka juga membatalkan larangan stadion di Milan, dengan hanya menutup hanya beberapa bagian saja, berkenaan dengan aturan dan tata peraturan yang diberlakukan, namun skenario tersebut ternyata dapat dihindari di masa mendatang. “Kami melihat bahwa sejumlah sanksi yang berlaku telah dijalani dengan mekanisme yang kurang baik,” tutur Beretta kepada Gazzetta dello Sport. “Ini merupakan sebuah tindakan yang keliru untuk menghukum ribuan pendukung yang tidak bersalah sementara pihak yang tidak bertanggung jawab jumlahnya hanya sekelompok kecil atau paling ratusan orang. “Sistem ini tidak bekerja dengan baik, malahan bukannya mengurangi segala macam bentuk pengaruh yang buruk dari pihak minoritas, namun suara mereka ternyata jauh lebih kuat dari perkiraan kami.

Ditambah lagi salah satu hal yang mereka anggap bahwa hukum tersebut sangat konyol adalah menyangkut letak geografis suatu daerah. Bahkan para suporter dari kelompok berbeda justru bergabung dan berupaya mencoreng hukum yang berlaku tersebut. Malahan tidak pelak bagi Lega Serie A harus menerima suatu aksi yang konyol atau sengaja dibuat-buat dari pendukung antar kedua klub, untuk saling mencemooh wilayahnya masing-masing, sehingga hukuman pun sempat dilayangkan kepada mereka dan hal ini yang patut menjadi perhatian dari kedua badan asosiasi sepakbola di negara tersebut. Memang, basis penggemar yang berbeda telah bergabung untuk mengejek hukum Lega, terutama ketika datang ke diskriminasi geografis. Ironi juga telah digunakan umumnya untuk menguji aturan, dengan penggemar menghina diri mereka bercanda.

“Sebuah mekanisme baru harus dikeluarkan dan itikad kuat juga harus ditunjukan,” tambah Beretta. “Meski kami juga memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi orang atau salah satu anggota yang bertanggung jawab atas perilaku yang kurang berkenan, menjatuhkan sanksi kartu keanggotaan fans dan tiket itu merupakan kekeliruan.” Ternyata ungkapan tersebut juga mendapat dukungan sepenuhnya dari presiden FIGC, Giancarlo Abete, yang mengatakan: “Saya sangat senang apabila melihat suatu pertandingan penuh dengan penonton, karena hal itu sangat berarti baik bagi klub dan juga pemain di atas lapangan yang memberikan semangat dari bangku penonton. Peraturan ini tentu bisa diperbaiki.”