Kontroversi Pengundian Piala Dunia 2014 Brazil

Kontroversi Pengundian Piala Dunia 2014 Brazil

Kontroversi Pengundian Piala Dunia 2014 Brazil

Piala Dunia adalah ajang tertinggi sepak bola. Kompetisi ini sudah dipastikan adalah ajang turnamen yang paling ketat di cabang sepak bola. Namun, bagaimana jika faktor kompetitif pada gelaran empat tahunan ini dirusak bahkan sebelum sebuah bola pun ditendang di Brazil? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena otoritas pengatur urusan sepak bola sedunia itu memutuskan untuk menggunakan sistem rangking mereka untuk memasukkan tim-tim ke dalam pot yang ada. Ada tujuh tim unggulan menurut Rangking FIFA yakni: Spanyol, Jerman, Argentina, Kolombia, Belgia, Uruguay dan Swiss. Kita tidak ada keraguan dengan tiga negara yang pertama, tapi lihat deretan negara berikutnya.

Pasti hampir semua penggemar sepak bola di seluruh dunia sepakat bahwa FIFA terlalu melihat masa sekarang sehingga membesarkan empat negara lain pada pot unggulan. Walaupun sebelumnya sistem rangking sudah sering dikritik oleh para pengamat dan beberapa asosiasi sepak bola negara-negara yang berlaga di Piala Dunia dan mencoba untuk melobi agar mengubah sistem tersebut dijadikan acuan sebagai penempatan unggulan, tetapi FIFA tidak mengubahnya. Alasannya hal tersebut masih dipakai sebenarnya adalah untuk menjaga Piala Dunia tetap kompetitif dan membuat alur bahwa sesama tim kuat tidak bertemu di babak-babak awal. Kalau pun pada akhirnya ada grup neraka atau tim kuat bertemu di babak awal itu adalah resiko.

Kesimpulan FIFA atas sistem rangking tersebut ternyata sebenarnya sudah tidak relevan saat ini. Apalagi kemudian negara-negara semenjana bisa saja menjadi sangat perkasa ketika hampir sistem rangking FIFA ditutup. FIFA memang menggunakan rangking bulan Oktober untuk menentukan negara-negara kontestan Piala Dunia ditempatkan di pot yang mana berdasarkan posisi mereka di peringkat FIFA pada bulan tersebut. Dengan menggunakan edisi Rangking FIFA bulan Oktober maka ditemukanlah negara macam Swiss, Belgia dan Kolombia, tiga negara yang bahkan belum pernah menjuarai Piala Dunia. Hal inilah kemudian yang menjadi kontroversi. FIFA seharusnya bisa memakai matrikulasi yang lain selain sistem Rangking.

Salah satunya adalah melihat prestasi tersebut di kompetisi regional maupun dunia selama dua gelaran terakhir. Joachim Low yang merupakan pelatih Jerman termasuk yang tidak mengerti dengan sistem yang ada sekarang, “Secara umum, saya menemukan sistem Rangking FIFA sangat sulit dimengerti, sebagai contoh, bagaimana mungkin kemudian Swiss berada posisi tujuh di depan Belanda dan Italia.” Kata Low kepada Sportal. Sistem lain yang mungkin bisa menjadi alternatif adalah sistem Elo Rating. Elo Rating adalah sistem yang diadaptasi dari peringkat di catur. Sistem ini kemudian tidak hanya memperhitungkan nilai menang, seri, kalah tetapi juga menghitung apakah tim tersebut bermain di kandang, tandang, jumlah selisih gol dan selisih peringkat mereka. Sistem ini bisa lebih adil untuk diterapkan.