Pertaruhan Reputasi Pelatih Di Piala Konfederasi

FIFA konfederasi 2013

Pertaruhan Reputasi Pelatih DiPiala Konfederasi

Berita World Cup – Piala Konfederasi punya gengsi tersendiri. Saat ini turnamen lima benua itu bukan hanya sekedar pemanasan sebelum Piala Dunia bagi segelintir tim. Namun. Kejuaraan yang sebelumnya bernama Piala Raja Fahd itu merupakan pertaruhan bagi elite setiap benua. Bahkan, kompetisi ini bisa dibilang pertaruhan reputasi bagi pelatih-pelatihkawakan setelah membawa timnya juara di masing-masing benua.tangan dingin mereka kembali diuji dengan level yang lebih tinggi. Jika sukses, maka itu akan menjadi kunci nasibnya dipertahankan di Piala Dunia tahun berikutnya. Tidak heran bahwa pelatih yang berhasil menapaki Piala Konfederasi akan mendapatkan ketenaran sebagai pelatih yang bagus, dan patut untuk diperhitungkanDiantara deretan nama-nama pelatih yang pernah mengantarkan juara Piala Konfederasi, Carlos Alberto Pareira agaknya juru taktik tersukes. Pelatih yang kini menjadi direktur teknik tim nasional (timnas)brazil itu berhasil  mengantarkan “Tim Samba” juara Piala Konfederasi 2005. Memang pada saat itu, brazil memberikan permainan yang sangat fantastis, sehingga bisa mendapatkan kehormatan untuk menjadi juara dalam Piala Konfederasi 2005 tersebut.

Sejauh ini, baru Pareira yang menggabungkan koleksi trofi Konfederasi dengan Piala Dunia dan Piala Afrika. Setahun sebelum meraih trofi Konfederasi, ia membawa Brazil juara Piala Amerika 2004. Pelatih berusia 70 tahun itu pertama kali merasakan sukses terbesar dengan menyabet Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Memang tidak mudah untuk memberikan pelatihan yang tepat dan bagus kepada para pemain sepak bola, apalagi tim yang sudah mendunia. Berkat prestasi yang dirai pada 2004 dan 2005 itu, mantan pelatih Corinthians tersebut tetap dipertahankan untuk mengasuh skuadnya di Piala Dunia 2006, Jerman. Hanya saja reputasinya langsung anjlok lantaran ia hanya bisa membawa”selecao” ke perempat final saja. Tim yang saat itu dikapteni Cafu dipaksa menyerah 0-1 dari Prancis. Memang suatu kekalahan yang tidak bisa ditampik oleh tim, dari hal seperti ini akan sangat berimbas kepada pelatih yang mangasuh tim tersebut. Hasil itu seolah menjadi titik balik kemerosotan Brazil pada tahun-tahun berikutnya di Piala Dunia. Walaupun seperti itu, menurutnya Brazil sudah memiliki fondasi  kepelatihan yang cukup mapan dibandingkan dengan Negara-negara lainnya. Pareira berujar bahwa pada tahun 1970  Mario Zagallo bahkan sudah menerapkan strategi bertahan yang sangat apik, dan hal tersebut tentunya sangat menguntungkan Brazil.

Selain nama Pareira ada beberapa nama pelatih lainnya yang sukses di Piala Konfederasi. Mereka diantaranya, mantan Brazil Mario Zallago, Manuel Lapuente sebagai pelatih meksiko, Roger Lemerre yang menjadi pengasuh tim Prancis, dan Jacques Santini yang merupakan pelatih dari Prancis. Zallago memulai dominasi Brazil setelah menjuarai Piala Konfederasi 1997, sedangkan Manuel Lapuente menjadi satu-satunya pelatih dari meksiko yang membawa negaranya menjadi  juara Piala Konfederasi pada 1999. Sementara itu, Luiz Felipe Scolari, pelatih Brazil saat ini memiliki khas menyamakan rekor Pareira. Tak heran apabila pelatih yang membawa Brazil juara dunia pada 2002 itu amat berambisi menyabet Piala Konfederasi 2013 ini. Laga para pelati ini akan diuji oleh keterampilan dari anak asuhnya di lapangan nanti. Jika memang pelatih tersebut telah berhasil untuk memberikan opengarahan yang baik utnuk timnya dan tim tersebut berhasil untuk menjadi juara, maka nama pelatih tersebut akan menjadi tenar, tidak seperti sebelumnya. Namun, jika gagal dan mengalami kemerosotan, pastinya juga nama pelatih lah yang akan menjadi sorotan umum dari publik dimanapun.