Roy Hodgson Tidak Terpengaruh Kritikan Tajam

Roy Hodgson Tidak Terpengaruh Kritikan Tajam

Roy Hodgson Tidak Terpengaruh Kritikan Tajam

Sebagai salah satu pelatih berpengalaman Roy Hodgson tahu benar cara jitu untuk menghindari sebuah tekanan. Bagi pelatih The Three Lions kekalahan dalam dua pertandingan terakhir di ajang persahabatan bukan menjadi tolok ukur penampilan timnya untuk menghadapi perhelatan Piala Dunia 2014 mendatang. Harus diakui memang kekalahan itu tidak pernah enak untuk diterima. Apalagi jika kekalahan itu terjadi dihadapan pendukungnya sendiri, saat Inggris harus mengakui ketangguhan Cili dan Jerman di stadion yang sudah tidak keramat lagi, Wembley. Publik Inggris sepertinya melupakan kesuksesan dalam sebuah perjalanan mereka di sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia lalu, di mana mereka meraih tiket dengan kemenangan mulus ke Brasil, walau sempat tertahan tetapi langkah Steven Gerrard cs. tidak terhadang. Balasan dari penampilan buruk di dua pertandingan itu tak ayal membuat Roy Hodgson sedikit terperanjat, meski ia mengakui hal ini bukan menjadi perkara besar.

Setelah melalui pertandingan terakhirnya usai ditaklukkan gol semata wayang bek Arsenal, Per Mertesacker, Inggris mendapatkan ejekan dari pendukungnya dan bahkan sejumlah mantan pemain dan para cendekiawan Inggris saat ini mulai meraba-raba kekuatan mereka dalam menghadapi perhelatan empat tahunan tahun depan. “Setidaknya saya sudah mempersiapkan (segala bentuk kritikan),” ungkap sang pelatih tim nasional Inggris. “Semua orang mulai menuliskan apa yang mereka inginkan. Mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Namun kami tahu apa yang akan kami lakukan. Kami tahu tim ini bakal melaju dengan baik. “Pemain-pemain semua mengalami kekecewaan (atas dua kekalahan beruntun) namun itu sama sekali tidak menarik perhatian saya sama sekali karena perjalanan kami ke depan masih panjang dan ujian pun masih terus berlangsung.

“Bila saya merasa kecewa, tentu saja saya kecewa. Tetapi mungkin saja euforia pada Oktober lalu terlalu berlebihan, sehingga ketika kami menghadapi dua kekalahan beruntun seperti tidak siap pada kenyataan yang ada. “Saya dapat memahami hal tersebut. Tetapi saya sama sekali tidak ingin larut di dalam kesedihan. Walau saya kecewa, saya tahu pemain-pemain saya siap menghadapinya, dan tentu anda seperti tidak mengindahkan bahwa dua pertandingan terakhir kami di tahunj 2013 adalah merupakan dua tim berpengalaman dalam ajang Piala Dunia. “Semua orang berhak untuk mengatakan segala sesuatunya. Namun ini sama sekali tidak mempengaruhi keputusan saya. Saya bukannya mempersiapkan kami untuk mengalami jatuh bangun di Brasil, karena pada Oktober tim ini bermain fantastis, kami sukses menuju ke Brasil. Dan kami sebuah tim yang luar biasa. Tetapi setelah dua pertandingan terakhir, kami bukan apa-apa.”

Hodgson juga mengakui kalau dirinya memiliki sejumlah harapan mengenai calon lawan yang dihadapi olehnya di sepanjang menuju laga pemanasan Piala Dunia. “Saya sudah berada di kursi kepelatihan ini selama 19 bulan dan saya sama sekali tidak pernah memilih calon lawan untuk kami hadapi di ajang persahabatan,” ungkap pelatih yang sudah malang melintang berkarir di dunia kepelatihan. “Apa yang saya harapkan adalah memilih, dan kemudian saya baru mengatakan, bahwa pertandingan ini merupakan gambaran dari laga pertama kami nanti di Piala Dunia. “Saya ingin mengeluarkan beberapa perkataan. Salah satu alasan bagi kami untuk menghadapi duel persahabatan ini karena kami ingin menghadapi ujian tim yang berpengalaman.”