Stuart Pearce Menyerah

pearce - beritaworldcup.com

Berita World Cup “I’m sick to back teeth,”

Bayangkan seorang pelatih sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu. Menurut anda seberapa buruk tampilan tim asuhannya?

Anda boleh mengatakan apapu, entah itu baik, buruk, atau bahkan diam saja, karena kita memang penonton dan tak terlibat apapun secara langsung dalam pertandingan.

Perlu anda ketahui bahwa komentar tadi keluar dari mulut Stuart Pearce, pelatih timnas Inggris U-21 saat timnya harus takluk (lagi dan lagi) di kejuaraan Euro U-21 Israel. Sudah jatuh tertimpa tangga pula plus sakit gigi. Kasihan sekali skuad muda ini.

Stuart Pearce akhirnya melakukan sesuatu yang ia pikir harusnya dilakukan sejak dulu, menyalahkan pemain mudanya atas penampilan memalukan di Israel. Kali ini bukan Italia yang memiliki dewa pengusasaan bola dalam diri Marco Veratti atau tembakan bebas spektakuler ala Lorenzo Insigne. Inggris juga tak melawan Norwegia yang memiliki mantan pemain akademi Manchester United, Magnus Eikrem. Malam ini, Inggris hanya melawan Israel. Tuan rumah yang sebelum pertandingan sudah tersingkir, sama dengan Inggris. Inggris U-21 kalah 1 gol dari timnas Israel U-21 dan hasil ini membuat mereka harus puas menduduki posisi juru kunci di grup A. Juru kunci klasemen dengan 0 poin dari tiga kali bertanding? Nahas.

Pearce yang sudah menangani timnas Inggris U-21 selama enam tahun – diprediksi kontraknya tak akan diperpanjang oleh FA – sudah tak bisa menahan lagi kesabarannya. Tak seperti saat melawan Italia dan Inggris dimana dia masih membela pemain-pemainnya. Malam ini dia sudah menyerah atas penampilan buruk timnya.

“Saya datang kesini dan tak melindungi siapapun. Rasanya sakit sekali sampai gigi belakang saya melihat penampilan seperti ini. standar yang sudah kami persiapkan selama tiga tahun rasanya jauh sekali dengan yang kami perlihatkan selama turnamen inni berlangsung. Saya berkata dengan jujur, sebenarnya saya kesini juga tak yakin mau menjawab apa tentang permainan yang ditunjukkan oleh tim.

Mereka yang seharusnya kesini dan menjawab pertanyaan media. Mereka harusnya yang menjawab sendiri tentang buruknya permainan mereka. Pada titik ini, saya rasa bukan merupakan tanggung jawab saya untuk menjawab penampilan seburuk itu.

Dasar dalam pertandingan seperti menguasai bola, bergerak dan mengumpan, mempersiapkan diri saat lawan menguasai bola, performa kami dalam semua aspek itu sangat buruk.”

Ada perasaan yang muncul di ruang ganti bahwa ada beberapa pemain yang sebenarnya tak punya hasrat untuk bermain di kejuaraan ini, komentar yang sama saat Pearce melihat timnya dikalahkan Italia dan Norwegia. Pearce dijadwalkan akan bertemu dengan Dewan Manajemen Timnas Inggris untuk mendiskusikan posisinya minggu depan.

Pearce dalam masalah kepemimpinan harus belajar pada Mourinho. Seburuk apapun hubungan Mourinho dengan pers dan manajer lain, dia tak pernah menyalahkan pemain secara terbuka didepan media. Apalagi pemain itu adalah sekumpulan pemuda yang baru menginjak usia 20 tahunan.

“Berkaitan dengan mental saya tentang masa depan, dan keyakinan saya untuk tetap bertahan disini, takkan berubah dalam 10 hari.”

Hasil yang didapat pada turnamen ini tak dapat memungkiri satu hal, Pearce cuma memenangkan tiga dari 15 pertandingan dalam turnamen yang dia jalani dalam waktu normal.

“Saat kau melihat disekeliling Eropa, selama enam tahun hanya tim ini yang telah sampai di pertandingan ini sebanyak empat kali.”

Benar Mr.Pearce, tim anda empat kali mengikuti turnamen Euro U-21 dan tak mendapatkan kehormatan seperti yang diperoleh Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia.